Kebersihan lingkungan sering kali dipandang sebagai isu sekunder, hanya menyangkut keindahan dan kerapian semata. Padahal, realitasnya jauh lebih mendasar: kebersihan lingkungan adalah pondasi utama dari kesehatan masyarakat, stabilitas ekonomi, dan bahkan ketahanan spiritual suatu komunitas. Lingkungan yang kotor dan tercemar bukanlah sekadar pemandangan yang tidak sedap, melainkan sebuah ekosistem yang sakit yang secara diam-diam membahayakan setiap individu di dalamnya. Lebih dari itu, dalam perspektif Islam, menjaga kebersihan adalah bagian tak terpisahkan dari iman dan wujud rasa syukur atas nikmat alam yang Allah anugerahkan. Oleh karena itu, membangun pemahaman kolektif akan esensi kebersihan lingkungan adalah langkah pertama menuju komunitas yang sehat, produktif, dan diridhai Allah.
Dampak Holistik Lingkungan yang Tidak Terjaga: Dari Fisik hingga Sosial
Lingkungan yang dipenuhi sampah, limbah, dan polusi menciptakan efek domino yang merugikan di berbagai aspek kehidupan.
Aspek Kesehatan: Lingkungan kotor adalah sarang berkembang biaknya vektor penyakit. Sampah yang menumpuk mengundang tikus, lalat, dan nyamuk yang dapat menyebarkan penyakit seperti demam berdarah, diare, tifus, leptospirosis, dan cacingan. Pencemaran udara dan air juga menyebabkan gangguan pernapasan (ISPA, asma) hingga penyakit kronis seperti kanker. Biaya pengobatan yang tinggi akan menjadi beban keluarga dan negara.
Aspek Ekonomi: Lingkungan yang tidak terawat menurunkan produktivitas karena warganya mudah sakit. Selain itu, nilai properti dan potensi pariwisata juga anjlok. Kawasan kumuh cenderung dijauhi investor dan pengunjung. Sebaliknya, lingkungan yang bersih dan asri dapat menjadi daya tarik ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan penghijauan.
Aspek Sosial dan Psikologis: Lingkungan yang kumuh sering kali berkorelasi dengan tingkat stres yang lebih tinggi, rasa tidak aman, dan konflik sosial. Kepedulian warga cenderung rendah, sementara rasa apatis dan saling menyalahkan tumbuh subur. Kondisi ini melemahkan ikatan sosial (social cohesion) yang vital bagi ketahanan komunitas.
Kebersihan Lingkungan dalam Perspektif Islam: Perintah Langsung dari Sang Pencipta
Islam mengangkat isu kebersihan dari sekadar norma sosial menjadi bagian dari akidah dan ibadah.
Sebagian dari Iman: Rasulullah ï·º bersabda, âKebersihan adalah sebagian dari iman.â (HR. Muslim). Kalimat singkat ini menempatkan tindakan membersihkan lingkungan sebagai manifestasi keimanan seseorang.
Menjaga Amanah Allah: Bumi dan segala isinya adalah amanah dari Allah untuk dirawat, bukan dieksploitasi secara serakah. Firman Allah, âDan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.â (QS. Al-Aâraf: 56). Membuang sampah sembarangan dan mencemari lingkungan adalah bentuk kerusakan (ifsad) di muka bumi.
Menghindari Najis dan Kotoran: Islam sangat detail mengatur tentang thaharah (kesucian), baik dari najis fisik maupun kotoran yang mengganggu. Perintah untuk menutup wadah makanan dan minuman, menjauhi tempat pembuangan kotoran, serta menjaga kebersihan tempat ibadah menunjukkan perhatian Islam yang tinggi terhadap sanitasi lingkungan.
Strategi Praktis Membangun Budaya Bersih dari Lingkungan Terkecil
Perubahan besar harus dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Mulai dari Diri dan Keluarga: Terapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) di rumah. Pilah sampah organik dan anorganik. Ajarkan anak-anak sejak dini untuk membuang sampah pada tempatnya dan merawat tanaman.
Gerakan Komunitas Berbasis RT/RW: Organisasikan Jumat Bersih atau Minggu Pagi Bersih secara rutin. Aktivitas gotong royong membersihkan saluran air, taman, dan area umum tidak hanya membersihkan lingkungan tetapi juga mempererat silaturahmi.
Advokasi dan Kolaborasi dengan Pemerintah: Masyarakat harus aktif mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas kebersihan yang memadai (tempat sampah, armada angkut, TPS/TPA yang layak) dan menegakkan peraturan daerah tentang pengelolaan sampah.
Kesimpulan: Kebersihan adalah Cermin Peradaban
Kondisi lingkungan adalah cerminan nyata dari tingkat kesadaran, kedisiplinan, dan peradaban suatu masyarakat. Menjaga kebersihan lingkungan adalah ibadah sosial yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh seluruh makhluk. Dengan memandangnya sebagai kewajiban agama dan investasi untuk kesehatan serta kesejahteraan bersama, kita dapat membangun gerakan kolektif yang kuat. Mari wujudkan lingkungan yang bersih bukan karena ada petugas, tetapi karena ada kesadaran dalam hati setiap warga bahwa bumi ini adalah titipan Illahi yang harus dijaga sebaik-baiknya.
Referensi:
HR. Muslim tentang kebersihan sebagian dari iman.
QS. Al-Aâraf: 56 tentang larangan berbuat kerusakan di bumi.
World Health Organization (WHO). (2022). Water, Sanitation, Hygiene and Health.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. (2021). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia.
Buku: Fiqh Lingkungan oleh Dr. Hayu Prabowo (MUI).