Berita

Warta Kita
Berita dan Informasi

Liputan seputar RW.21 dan Informasi.

Berita

Mencegah Banjir dan Kekeringan: Peran Resapan Air

M
mdklik
09 Oktober 2025 12 Views
Mencegah Banjir dan Kekeringan: Peran Resapan Air

Pendahuluan: Siklus Air yang Terganggu: Ketika Hujan Berubah Jadi Musibah

Di banyak permukiman padat, siklus air alami telah rusak. Lahan yang seharusnya menjadi area resapan (tanah, taman) telah berganti menjadi beton dan aspal. Akibatnya, ketika hujan turun, air tidak lagi meresap dengan tenang ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah (groundwater). Sebaliknya, air langsung menjadi aliran permukaan (runoff) yang deras, membanjiri jalan dan saluran drainase yang kapasitasnya terbatas. Inilah yang memicu banjir lokal (genangan). Di sisi lain, di musim kemarau, sumber air tanah menjadi kering karena tidak ada yang mengisinya. Lingkungan kita terjebak dalam siklus "banjir di musim hujan, kekeringan di musim kemarau". Untuk memutus siklus ini, diperlukan intervensi cerdas dengan mengembalikan fungsi resapan air melalui infrastruktur hijau dan biru yang dapat dibangun secara swadaya oleh warga.

Memahami Akar Masalah: Tertutupnya Permukaan Resapan

Penyebab utama banjir genangan di lingkungan adalah tingginya koefisien limpasan (runoff coefficient). Artinya, persentase air hujan yang langsung mengalir di permukaan sangat besar karena sedikitnya area resapan. Halaman yang disemen, jalan aspal, dan atap rumah semua berkontribusi. Air hujan yang harusnya menjadi berkah justru menjadi beban bagi sistem drainase yang sudah buruk. Di sisi lain, air yang tidak meresap berarti tidak menyuburkan tanah dan tidak mengisi akuifer (lapisan pembawa air). Solusinya adalah memperlambat aliran air dan memaksimalkan resapan di titik-titik dimana air jatuh.

Solusi Swadaya: Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Resapan Air

Ada beberapa teknologi sederhana dan murah yang bisa diterapkan di tingkat rumah tangga dan lingkungan.

  1. Lubang Resapan Biopori (LRB): Lubang silinder berdiameter 10 cm dengan kedalaman sekitar 80-100 cm yang digali di tanah. Fungsinya ganda: a) Meresapkan air dengan cepat ke tanah yang lebih dalam, b) Mengolah sampah organik menjadi kompos ketika diisi dengan sampah dapur/sisa tanaman. Biopori sangat efektif dipasang di halaman, taman, atau sepanjang batas tanah.

  2. Sumur Resapan: Lebih besar dari biopori, berbentuk seperti sumur dengan diameter 0,8-1,2 meter dan kedalaman 1,5-3 meter, diisi dengan batu belah dan pasir. Cocok untuk menampung dan meresapkan air hujan dari atap rumah melalui talang. Sumur resapan dapat mengurangi debit air yang masuk ke saluran drainase umum hingga 50-80%.

  3. Rain Garden (Taman Penyerap Hujan): Cekungan tanah yang ditanami dengan tanaman keras dan bunga yang tahan genangan. Diletakkan di area dimana air hujan berkumpul. Taman ini akan menyerap dan menyaring air hujan secara alami sekaligus memperindah lingkungan.

  4. Membuat Lubang pada Pembatas Trotoar (Breaking the Curb): Memotong sedikit pembatas beton trotoar agar air hujan dari jalan raya bisa mengalir ke area taman atau tanah terbuka di sebelahnya,而不是tertahan di jalan.

Strategi Komunitas: Dari Individu Menuju Gerakan Lingkungan

Solusi ini akan optimal jika dilakukan secara massal dan terintegrasi.

  • Gerakan "Satu Rumah, Satu Biopori/Sumur Resapan": Kampanyekan gerakan ini di tingkat RT/RW. Adakan pelatihan pembuatan, pinjamkan alat bor biopori bergantian, dan buat lomba rumah terbaik dalam mengelola air hujan.

  • Revitalisasi dan Penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH): Alihfungsikan tanah kosong atau sudut-sudut mati lingkungan menjadi taman kecil atau vegetated swale (parit bervegetasi). Pohon dan tanaman tidak hanya menyerap air tetapi juga menahan tanah.

  • Normalisasi dan Perawatan Saluran Air Bersama: Gotong royong membersihkan saluran drainase dan sungai kecil secara rutin untuk memastikan aliran air lancar. Pastikan saluran itu mengalir ke area resapan atau taman, bukan langsung ke sungai besar yang sudah penuh.

  • Advokasi Kebijakan di Tingkat Kelurahan: Dorong kelurahan untuk mewajibkan pembuatan sumur resapan untuk setiap pengurusan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) baru dan memberikan insentif bagi warga yang telah membuatnya.

Kesimpulan: Air adalah Kehidupan, Kelola dengan Bijak

Mengelola air hujan bukanlah tugas pemerintah semata, tetapi kewajiban ekologis setiap penghuni bumi. Dengan teknologi tepat guna seperti biopori dan sumur resapan, ditambah dengan komitmen untuk memperbanyak infrastruktur hijau, kita dapat mengubah paradigma: dari memusuhi air hujan menjadi mendapatkan manfaat darinya. Air yang meresap akan menjadi cadangan air bersih, menyuburkan tanah, mencegah banjir, dan mendinginkan udara. Mari jadikan lingkungan kita sebagai spons raksasa yang mampu menyerap dan menyimpan berkah dari langit, untuk kesejahteraan dan ketahanan kita bersama di masa kini dan nanti.

Referensi:

  1. SNI (Standar Nasional Indonesia) 03-2453-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan.

  2. Institut Pertanian Bogor (IPB). Modul Teknologi Lubang Resapan Biopori.

  3. World Resources Institute (WRI). (2019). Integrated Urban Water Management.

  4. QS. Al-Anbiya: 30: "Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..."

  5. Buku: The Blue Revolution: Unlocking the Potential of Water oleh Ian Calder.

Bagikan Artikel Ini

Bantu sebarkan informasi positif ke warga lainnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!